|
Banyak hal yang melatarbelakangi hubungan sepasang kekasih atau suami-istri menjadi sedikit renggang atau terasa hambar. Lebih tepatnya, gelora cinta ... more
Emas memang selalu identik dengan perhiasan, mulai dari kalung, anting, cincin, gelang dan bros. Namun, emas ternyata juga cukup banyak dilirik orang ... more
|
|
|
|
|
| |
Halaman 1 | 2 | 3 | 4
 |
Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, angka kematian ibu (AKI) adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup (jauh menurun dari AKI 1990 sebesar 450 per 100.000 kelahiran), sedangkan angka kematian bayi (AKB) tercatat 35 per 1.000 kelahiran hidup (dari angka 51 per 1000 kelahiran hidup pada 1990).
|
|
| Di tingkat ASEAN, angka kematian bayi di Indonesia yang 35 per 1.000 kelahiran hidup itu hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi Malaysia, atau hampir 2 kali dibandingkan dengan Thailand dan 1,3 kali dibandingkan dengan Filipina. |
|
Depkes menargetkan pada tahun 2009 AKI turun ke 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup.
Masalah gizi di Indonesia juga masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Pada tahun 2003 terdapat sekitar 6,7 juta Balita (27,3%) menderita gizi kurang dan 1,5 juta di antaranya menderita gizi buruk. Anemia gizi besi dijumpai pada sekitar 8,1 juta anak.
Menurut SDKI tahun 1997 dan 2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun yang menyusui dalam 1 jam pertama cenderung menurun dari 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada tahun 2002. Cakupan ASI Eksklusif 4 bulan sedikit meningkat dari 52% tahun 1997 menjadi 55,1% pada tahun 2002. Cakupan ASI Eksklusif 6 bulan menurun dari 42,4% tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Sementara itu penggunaan susu formula justru meningkat lebih dari 3 kali lipat selama 5 tahun dari 10,8% tahun 1997 menjadi 32,5% pada tahun 2002.
Tingginya angka kesakitan dan gangguan gizi yang diderita oleh bayi dan anak Balita di Indonesia pada saat ini mempengaruhi kualitas remaja, calon ibu dan bapak serta sumber daya tenaga kerja 10-20 tahun mendatang. |
| "Oleh karena itu apabila kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak tidak diberikan prioritas dan perhatian khusus maka kondisi bangsa dan negara Indonesia pada tahun 2015-2020 akan semakin terpuruk lagi karena buruknya kualitas SDM," ujar Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, seperti tercantum di situs resmi Departemen Kesehatan RI (www.depkes.go.id) |
|
| Jelaslah, bahwa tumbuh kembang anak amat vital dalam membantu 'generasi emas' di masa mendatang yang tak bisa dilepaskan dari peran ibu. Untuk mendukung tumbuh kembang, memberikan makanan bergizi menjadi hal penting yang tak bisa diabaikan. |
 |
| (ki-ka): Serra (runner up Ibu cemerlang 2006), Mirna (Nestle) Brata (Nestle) , Tuti Soenardi dan finalis Ibu Cemerlang 2006 |
|
|
Makan, tak salah lagi, merupakan kegiatan penting bagi anak untuk menunjang tumbuh kembangnya. Sayangnya, makan kadang bukan menjadi hal yang menyenangkan untuk anak-anak. Ada saja kendala anak menolak makan, mulai dari bosan dengan menunya, ketakutan akan teror saat makan (karena ibu selalu memarahi anak yang enggan makan atau memaksa menghabiskan makanan sementara si anak sudah kenyang) hingga alasan capai yang malah membuat si kecil rewel saat jam makan tiba.
Dr. Lineu Hewis, SpA, Spesialis Ilmu Kesehatan Anak, The Jakarta Women and Children Clinic, menyatakan bahwa makan merupakan kegiatan memasukkan nutrisi ke dalam tubuh. Makanan yang dikonsumsi anak hendaknya tidak hanya asal kenyang, namun kaya nutrisi yang dibutuhkan untuk proses tumbuh kembangnya. |
|
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
|